“KRIPIK SETAN” MAICHI
A. CERITA DIBALIK SUKSES MAICHI
Keripik pedas sering diidentikan dengan
makanan kampung. Produk popular ini biasanya gampang ditemukan di warung dan
dijual secara eceran. Namun, ada pula keripik pedas yang dapat dipesan melalui
jejaring sosial Twitter atau Facebook. Axl Nurhilman, menyulap
keripik pedas biasa menjadi keripik pedas yang dicari-cari oleh banyak
konsumen. Dengan brand Maicih,
keripik produksi Axl sedang digandrungi oleh masyarakat Bandung, terutama anak
muda.
Nama brand
Maicih diambil dari kisah masa lalu yang selalu teringat olehnya, “Maicih itu
terlahir waktu saya masih kecil. Biasanya, kalau saya dibawa mama ke pasar,
suka ada ibu-ibu tua pake ciput dengan baju alakadarnya. Setiap belanja dia
ngeluarin dompet, bonus dari toko emas yang ada resletingnya untuk masukin
receh. Mama saya bilangnya itu dompet Maicih,” ungkapnya.
Beberapa tahun lalu, ia ketemu ibu-ibu
yang sosoknya menyerupai Maicih dalam memorinya. Ibu-ibu paruh baya yang
pakaiannya tradisional membuat bumbu kripik pedas. Kemudian ia terinspirasi
untuk membuat brand Maicih dan
ternyata orang lain sangat menyukainya, karena nyeleneh dan unik.
Maicih mampu diproduksi 75 ribu bungkus
per minggu. Pada semua varian dari kripik, jeblak, gurilem. Dan, selalu habis.
Ia mematok harga maicih di daerah Bandung, keripik level 3-5, gurilam dan
jeblak itu Rp 11 ribu, untuk keripik yang level 10 Rp 15 ribu. Di luar Bandung,
keripik level 3-5, gurilam dan jeblak Rp 15 ribu, yang level 10 itu Rp 18 ribu.
Memilih rasa pedas karena memberikan
efek kecanduan untuk yang mencobanya. Namun konsumen tidak perlu khawatir
karena dalam komposisi Maicih tidak memakai bahan pengawet dan bisa awet sampai
delapan bulan. Rasa pedas Maicih dari rempah pilihan dan cabai yang segar. Dan
produk ini sangat baik untuk kesehatan, fungsi jantung, dan detoksifikasi.
Keripik Maicih juga enak dimakan pakai nasi, atau dicampur di lotek, mi rebus.
Maicih lebih enak kalau dikombinasikan dengan makanan-makanan lainnya.
Awalnya, pemasaran Maicih melalui
teman-teman saja yang bertestimoni di media sosial twitter. Kemudian ia lebih fokus untuk memasarkannya. “Mereka yang
sudah merasakan Maicih punya testimoni masing-masing. Jadi, saya tidak usah
capek-capek promosi. Dengan Twitter,
promosi seperti bola salju, terus membesar.”, ujarnya. Alasan pemasaran hanya
melalui Twitter dan Facebook selain gratis, promosi di Twitter bisa menjadi gong karena
kekuatan marketingnya dibuat orang-orang yang beli Maicih. Orang yang belum
tahu Maicih akan bertanya dan mereka yang nge-tweet soal Maicih akan dengan antusias menjelaskan.
Strategi itu sukses. Keripiknya menjadi
barang buruan. Konsumen harus mengantre berjam-jam demi mendapatkan keripik
superpedas itu. Bahkan, antrean pernah memanjang hingga satu kilometer. Mereka
rela mengantre walau hujan badai. Di setiap kota juga ngantre. Sekarang
Jenderal-jenderal punya fans dan komunitasnya masing-masing.
Waktu awal-awal, ia masih memakai sistem
cash on delivery (COD), ia mau
mengantar walau satu bungkus. Waktu itu Ia percaya, “Sekarang saya
ngejar-ngejar konsumen, tapi nanti suatu waktu konsumen yang ngejar-ngejar
saya,”. Dan, sekarang terbukti. Karena, memang pemasaran addicted. Ia tidak mempunyai karyawan yang banyak, untuk segi
pekerja itu sendiri sekitar 10 orang termasuk bagian packing, masak, pembuat
bumbu, dan distribusi. Selebihnya agen, yang disebut jenderal Maicih. Ia
membuat bahasa marketing dengan nuansa yang berbeda supaya lebih menarik.
Menurutnya, kalau mereka sebutnya, “ya
ini agen maicih,” sepertinya kurang keren. Kalau disebut agen, seperti agen
minyak dan kurang menjual. Bukan bermaksud mendeskritkan pekerjaan diluaran
sana. Disebut jenderal agar value-nya
bertambah, karena produk saya cuma keripik. Kami juga punya menteri
perhubungan, yang megang jalur distribusi dan penjualan ke luar pulau. Ia
seperti ingin membangun kerajaan sendiri.
Syarat untuk menjadi jenderal orang yang
menjadi jenderal dipilih yang memiliki intelektual baik, dan berkompeten. Dari
segi SDM, kami nggak hanya asal menerima jenderal, tetapi ada proses interview
dan training. Kualitas mereka harus yang terbaik. Jenderal bukan karyawan tapi
mitra usaha. Mereka membeli lisensi untuk izin usaha. Jadi istilahnya, mereka
adalah distributor atau agen resmi yang menjual kripik Maicih. Jadi bisa
dipertanggung jawabkan.
Karena banyak yang mengatasnamakan
Maicih atau memakai nama maicih dengan cara yang tidak baik. Banyak konsumen
yang dirugikan karena tertipu. Sementara maicih yang asli itu hanya diinfokan
oleh akun Twitter @infomaicih dan
yang hanya dijual oleh para jenderal.
Training
jenderal seputar character building,
knowledge, sikap, serta bagaimana
menyikapi bisnis ini ke konsumen. Karena, mereka tidak hanya menjual keripik,
tetapi juga education. Ia sendiri
sering sharing knowledge di training. Dengan mengikuti training mereka akan siap menjadi pengusaha dari segi mental.
Mereka tidak hanya jual beli putus, tapi juga bisa dibilang Independent Bussiness Owner (IBO). Jadi,
merasa sebagai pemilik Maicih di kotanya masing-masing. Dan setiap bulan ia dan
para jenderalnya mengevaluasi penjualannya dengan mengadakan event-event. Harapan kedepannya, ia
ingin pemasaran tidak hanya nasional tetapi go
internasional. Sekarang sudah masuk sampai Singapura dan Jepang. Tetapi
masih sistem kirim, jenderalnya para TKI di sana.
Namanya berkibar di dunia maya berkat
strategi pemasaran lewat jejaring sosial Twitter.
Ketenaran keripik pedas Maicih menimbulkan rasa penasaran bagi mereka yang
belum mencoba, dan rasa ketagihan bagi mereka yang sudah. Maicih ingin mengangkat
jajanan kampung untuk bisa naik kelas. Bungkus keripiknya saat itu pun masih
sederhana, polos tanpa sablonan logo.
Berapa pun jumlah pesanan keripik, ia
akan mengantarnya sendiri. Awalnya, Axl memasarkan keripik pedas Maicih dengan
lima level atau tingkat kepedasan, mulai dari level 1 hingga 5. Setelah dua
bulan, tes pasar menunjukkan bahwa keripik level 3 dan 5 adalah yang paling
laris. Kini, dua level keripik itulah yang diproduksi massal.
Januari 2011, Maicih kembali berinovasi
dengan menciptakan keripik Maicih edisi spesial, level 10. Ada orang-orang yang
merasa tertantang, mereka berpikir kalau level 5 ternyata kurang pedas dan
mencari yang lebih. Berkat inovasi marketing cerdasnya itu, kini Maicih
diproduksi sekitar 2.000 bungkus per hari untuk semua varian produknya. Ia
memberi harga satu bungkus keripiknya sebesar Rp 11 ribu. Axl pun ketiban
rezeki, bisa meraih keuntung an per hari antara Rp 1,5 juta hingga Rp 2 juta.
Tentu saja penghasilan itu lebih besar
jika dibandingkan dengan gaji pejabat selevel menteri sekalipun. Mimpi Axl
untuk terus memopulerkan Maicih pun tak tanggung-tanggung. Pemasaran luar kota
akan diprioritaskan. Karena di Bandung sudah cukup happening, jadi kita akan ke luar kota, luar pulau, bahkan luar
negeri. Kita mengenal Sumedang dengan tahu, Bandung dengan peuyeum. Axl ingin
Bandung juga bisa dikenal sebagai kota asal Maicih.
Pada bulan Mei 2011 , tepatnya tanggal
07 Mei 2011 Maicih launching produk
terbarunya yaitu seblak, sejenis krupuk pipih pedas, dengan varian level yang
berbeda-beda. Axl akan terus melakukan inovasinya tetapi dengan tidak
meninggalkan ciri khas mengangkat camilan kelas rendahan menjadi berkelas dan
diminati orang banyak. Kemungkinan pada masa mendatang akan muncul
produk-produk lain yang lebih Inovatif lagi.
B.
STRATEGI
PEMASARAN MAICHI
Ini merupakan titik berhasilnya maicih
dimana dilakukan dengan strategi pemasaran yang out of the box. Axl
memanfaatkan kecanggihan teknologi masa kini yaitu dengan media twitter dan
Facebook. Axl sengaja membuatn produknya eksklusif agar orang penasaran. Dia
tidak membuka toko seperti layaknya kebanyakan penjual, namun dijual dengan
memanfaatkan media twitter sebagai informasi lokasi dimana para Jenderal ( agen
) maicih mangkal menjajakan dagangannya.
Pemasaran produk ini berbeda dengan
kudapan unik kota Bandung lainnya. Calon pelanggan hanya bisa mengetahui dimana
Maicih gentayangan tiap harinya melalui situs microblogging Twitter. Tiap hari @InfoMaicih akan memberi kabar di
mana produk Maicih bisa didapatkan. Tim pemasaran Maicih yang disebut sebagai
Jenderal, akan menjual produk Maicih di lokasi-lokasi tertentu. Mulai dari
kampus, kantor atau tempat keramaian lainnya. Pendek kata, tak ada yang abadi
sebagai tempat membeli produk Maicih. Mereka selalu mobile sesuai posisi para
jenderal. Cara pemasaran yang cukup unik ini terbukti mendongkrak nama Maicih
di jagat twitter. Banyak yang penasaran seperti apa produk Maicih gara-gara
membaca kicauan pengguna Twitter yang bersliweran tiap saat. Dan biasanya
mereka yang sudah merasakan kripik setan Maicih pastinya bakal tericih-icih
alias kepedasan.
Melihat efektivitas kicauan
teman-temannya di dunia maya, maka Axl pun memutuskan untuk fokus hanya
berkomunikasi lewat twitter @infomaicih, Facebook
#maicih, dan situs www.maicih.co.id.
Diterangkan Axl, jumlah follower
Maicih saat ini sudah mencapai lebih dari 354 ribu, sedangkan jumlah fanpage mencapai 49.000-an.
Untuk itu, jangan harap Anda akan
menemukan gerai fisik Maicih. “Kami memang sengaja tidak membangun gerai fisik.
Dari sisi biaya operasionalnya sangat tinggi. Dan yang terpenting, gerai
fisik tidak mampu menciptakan interaksi antara brand Maicih dengan konsumen,”
ungkap Axl beralasan.
Lantas, bagaimana cara Maicih
dikomunikasikan dan dijajakan? Rupanya, Maicih punya sederet “jenderal”—sebutan
untuk pasukan penjual atau reseller Maicih.
Jenderal tersebutlah yang bertugas berkicau di akun twitter mereka masing-masing
tentang lokasi-lokasi mana saja yang bakal disambangi mobil yang membawa
keripik Maicih untuk dijajakan. Dan, tiap harinya lokasi yang disambangi
berpindah-pindah, alias nomaden.
Konsep jualan nomaden itu rupanya justru menggelitik rasa penasaran sekaligus
memicu antusiasme konsumen. Dampaknya, tak sedikit anak-anak muda justru
menunggu-nunggu kicauan dari para jenderal Maicih plus berharap lokasi kampus
atau rumah mereka bisa disambangi mobil Maicih.
Melalui konsep nomaden itu, urai Axl, “Kami ingin mencapai misi pertama kami,
yaitu menciptakan gengsi di dalam diri konsumen kalau bisa
mengkonsumsi Maicih. Bahkan, punya gengsi jika bisa menjadi icihers.” Itu
artinya, jika belum tahu dan mencoba Maicih, boleh dibilang mereka belum masuk
kategori “bergaul”.
Kini, misi berikut dari Axl dan
kawan-kawan adalah menciptakan gengsi profesi seorang jenderal. Menjadi seorang
jenderal Maicih jelas tidak mudah. Seleksi dilakukan sangat ketat. “Ada tiga
batch yang kami tawarkan kepada para calon jenderal,” imbuhnya. Ketiga batch
itu dibedakan berdasarkan pembelanjaan keripik Maicih.
Untuk batch pertama, nilai pembelanjaan para jenderal minimal Rp 5 juta per
minggunya. Batch dua, nilai pembelanjaan produk Maicih minimal Rp 10 juta per
minggunya. Sementara batch tiga, kategori baru, nilai pembelanjaan minimal Rp
100 juta per minggunya. Para jenderal dibebaskan untuk berinovasi dalam
memasarkan produk Maicih,” ungkap Axl.
Selain syarat pembelanjaan, yang
terpenting adalah calon jenderal Maicih harus datang ke Bandung untuk interview
dan mengikuti Akademi Jenderal Maicih. “Di sana, calon jenderal di-training seputar team work, inovasi, character
building, dan soft skill lainnya.
Pendeknya, para calon jenderal harus mampu menjadi Independent Bussiness Owner (IBO),” tegas Axl.
Jangan heran, jika para jenderal Maicih
dituntut untuk inovatif memikirkan cara-cara efektif dalam memasarkan keripik
Maicih di area mereka masing-masing. “Kami tidak men-support dana sepeser pun untuk para jenderal. Mereka sendirilah
yang harus mampu membangun brand Maicih dan memasarkannya di wilayahnya
masing-masing,” ia menambahkan.
Axl mencontohkan, area Cirebon
memiliki karakteristik yang berbeda dengan wilayah Jakarta. Di Cirebon,
komunikasi jauh sangat efektif menggunakan medium radio. Maka, jenderal di sana
pun bekerja sama dengan sejumlah radio lokal untuk menggelar talkshow seputar Maicih. Sementara di
Jakarta, ketika Axl diundang hadir di salah satu program Metro TV dan Trans7,
permintaan Maicih langsung booming.
“Beda lagi dengan Bekasi. Pendekatan di sana justru sifatnya harus personal,”
tuturnya.
Kerja keras para jenderal—yang merupakan
anak-anak muda kelahiran era 80-an—itu tak percuma. Kini, Maicih sudah sampai
seantero Indonesia, dari Aceh hingga Papua. Bahkan, Maicih juga sudah menjangkau
mancanegara. Sebut saja Jepang dan Singapura. Tak mengherankan, dengan modal
awal yang hanya Rp 15 juta, kini omzet Maicih membengkak. Per bulan, omzet
Maicih—yang didapat dari pembelanjaan keripik para jenderal—sudah menembus Rp 7
miliar.